Kenali Perbedaan Air Destilasi dan Deionisasi sebelum Menggunakannya!

//
Home » News » Kenali Perbedaan Air Destilasi dan Deionisasi sebelum Menggunakannya!

Mungkin Anda pernah mendengar tentang istilah air destilasi. Ini merupakan salah satu metode pemurnian air yang banyak digunakan saat ini. Contoh lain dari pemurnian air adalah menggunakan metode deionisasi.

Penggunaan dari air murni ini biasanya untuk kebutuhan laboratorium. Proses pemurnian ini sendiri bertujuan untuk menghasilkan air yang benar-benar murni dan tidak ada campuran dari bahan mineral lainnya. Jika ingin tahu lebih lanjut perihal kedua jenis air murni tersebut, yuk, simak ulasan di bawah ini!

Apa Bedanya Air Destilasi dengan Air Deionisasi

Pada dasarnya, kedua metode ini memiliki fungsi dan tujuan yang sama, yaitu menghilangkan ion yang terlarut dalam air. Namun, jika melihat hasilnya, maka kedua prosess ini akan sagnat berbeda. Bahkan penggunaan dari masing-masing jenis ini tidak bisa saling menggantikan. Berikut adalah penjelasan dari kedua jenis pemurnian air tersebut:

1. Air Destilasi

Proses pemurnian air yang pertama adalah air destilasi atau biasa disebut juga dengan air suling. Proses demineralisasi ini sendiri akan menggunakan metode destilasi.

Prosesnya adalah air akan didihkan sampai membentuk uap air. Uap air yang terkumpul ini kemudian dikondensasi untuk kembali membentuk air, inilah yang nantinya dinamakan air destilasi.

Proses ini akan menghasilkan zat kotor yang ada dalam air. Hal tersebut karena zat pengotor ini akan tertinggal ketika proses penguapan. Masalah dari metode ini adalah ada beberapa zat organik dalam air yang bersifat mudah menguap.

Dalam proses ini, maka zat tersebut sudah pasti hilang. Pemurnian air dengan metode destilasi ini sendiri biasanya akan menghilangkan molekul garam dan juga partikel dalam bentuk padat.

2. Air Deionisasi

Air deionisasi adalah proses pemurnian air yang dilakukan dengan cara mengalirkan air keran, air dari mata air, atau bahkan air suling ke resin dengan muatan listrik dalam sebuah mesin air demineralisasi.

Nantinya, kation dan anion dalam air akan bertukar dengan ion H+ dan OH-, proses inilah yang akan membuat air menjadi murni.

Air deionisasi sendiri memiliki sifat reaktif, hal ini membuat sifatnya bisa berubah dengan cepat setelah terpapar udara. Air deionisasi memiliki pH = 7 ketika pertama kali proses pemurnian.

Ketika air terkena udara, maka air akan bereaksi dengan CO2 dan membentuk asam karbonat yang terion menjadi H+ dan HCO3- dan membuat pH air berubah menjadi 5,6

Proses pemurnian dengan metode ini tidak bisa membuang partikel pengotor berupa molekul seperti gula atau senyawa organik tidak bermuatan. Penyebabnya, karena molekul dan senyawa tersebut tidak bisa ditukar oleh resin.

Bisakah Air Destilasi dan Air Deionisasi Dikonsumsi?

Jika melihat dari sifatnya, maka sebenarnya tidak disarankan untuk mengkonsumsi air yang didapat dari metode destilasi ataupun deionisasi. Alasanya karena air tersebut hanya sedikit mengandung mineral, bahkan tidak mengandung sama sekali.

Dalam beberapa kasus, air destilasi sebenarnya masih bisa untuk dikonsumsi. Meski demikian, manfaatnya yang Anda dapatkan tidaklah besar. Hal yang sama tidak berlaku untuk air deionisasi.

Air yang didapatkan dengan metode deionisasi sama sekali tidak boleh diminum. Alasannya karena air ini bersifat korosif, terutama ketika sudah berkontak dengan udara. Sifat ini bisa membuat mineral gigi larut dan menjadi keropos, bahkan bisa merusak jaringan-jaringan lunak lainnya.

Alasan lainnya mengapa air deionisasi tidak bisa diminum adalah karena prosesnya tidak bisa mengeluarkan molekul organik. Jika sumber air tersebut mengandung patogen, maka hal tersebut tidak bisa hilang dan akan sangat berbahaya bagi tubuh.

Apa Saja Fungsi Air Destilasi dan Air Deionisasi

Jika tidak bisa dikonsumsi, lalu apakah fungsi dari air destilasi dan air deionisasi? Mungkin ini menjadi pertanyaan banyak orang. Sebenarnya, kedua jenis air murni ini banyak digunakan untuk keperluan laboratorium.

Ini juga alasan ketika Anda mencari tempat jual mesin demin, maka banyak penggunaannya yang untuk kebutuhan laboratorium. Meskipun sama-sama untuk kebutuhan laboratorium, namun secara spesifik, penggunaan kedua air ini sedikit berbeda.

Misalnya air suling, air yang didapatkan dari pemurnian dengan metode destilasi ini banyak digunakan untuk:

  • Pelarut untuk membuat berbagai macam larutan.
  • Analisis kimia.
  • Larutan standar yang sudah terkalibrasi.
  • Membersihkan alat-alat kaca untuk praktikum.
  • Membuat air dengan tingkat kemurnian yang tinggi.

Sementara untuk air deionisasi, air ini akan memiliki tingkat kemurnian bergantung pada jenis sumber air. Itulah mengapa banyak orang mencari tempat jual air demin untuk mendapatkan tingkat kemurnian tertentu. Secara umum, penggunaanya adalah untuk:

  • Otoklaf Mikrobiologi.
  • Eksperimen kimia yang menggunakan senyawa-senyawa ionik.
  • Sebagai pelarut untuk membuat larutan.
  • Membersihkan alat-alat kaca laboratorium.
  • Analisis kimia.
  • Larutan standar.
  • Untuk penggunaan baterai.

Bisakah Mengganti Air Destilasi dengan Air Deionisasi?

Untuk kebutuhan laboratorium, biasanya sudah ada ketentuan untuk menggunakan air jenis mana. Maka sebaiknya tidak mengganti ketentuan tersebut untuk mendapatkan hasil yang akurat.

Meski demikian, ada kondisi dimana Anda menggunakan air deionisasi yang berasal dari air suling atau proses destilasi. Ketika air tersebut bersentuhan dengan udara, maka air deionisasi tersebut akan kembali menjadi air suling biasa.

Jika Anda yakin proses tersebut tidak mempengaruhi hasil akhir, maka Anda bisa menggunakan air tersebut.

Namun, untuk mengantisipasi hasil yang kurang akurat, jika ingin melakukan praktikum di ruang terbuka, yang memungkinkan terjadinya kontak air dengan udara dalam waktu lama. Maka sebaiknya menggunakan air suling atau air destilasi.

Sudah Paham Perbedaan Air Destilasi dengan Air Deionisasi?

Jadi, air suling adalah varian air demineralisasi yang mengalami proses pemurnian menggunakan suatu proses bernama destilasi dan air ini bisa Anda konsumsi, namun tidak disarankan. Sementara air deionisasi merupakan proses pengolahan air keran menggunakan resin bermuatan listrik dan berbahaya untuk dikonsumsi.