7 Metode Pengelolaan Air Bersih untuk Mengolah Air Limbah

//
Home » News » 7 Metode Pengelolaan Air Bersih untuk Mengolah Air Limbah

Seringkali limbah tidak bisa langsung Anda buang ke got atau gorong-gorong, selain karena akan mencemari lingkungan, kawasan sekitar rumah atau pabrik Anda bisa menjadi bau.

Anda dapat mengatasi hal ini dengan cara melakukan pengelolaan air yang baik untuk mengolah air limbah agar jadi lebih bersih.

Metode atau Cara Pengelolaan Air Bersih

Limbah yang Anda hasilkan dari proses industri tidak serta-merta bisa Anda alirkan begitu saja ke saluran pembuangan, karena itu lah ada metode pengolahan air bersih.

Meski begitu, Anda tidak bisa mengharapkan air limbah bisa langsung berubah jadi air bersih dengan adanya metode-metode ini. Dengan kata lain, pengubahan air limbah menjadi air bersih tidak bisa Anda lakukan secara seketika.

Ada beberapa hal yang yang harus Anda lakukan, entah itu dalam bentuk pengukuran pH, COD (Chemical Oxygen Demand), BOD (Biological Oxygen Demand), dan tes lainnya untuk memastikan tingkat kejernihan air.

Walaupun begitu, Anda tetap dapat mencoba metode-metode untuk membersihkan air limbah yang akan artikel ini sampaikan.

Berikut ini adalah tujuh metode dan cara pengelolaan air bersih agar limbah milik Anda bisa menjadi lebih jernih.

1. Metode Lumpur Cair

Metode pengolahan air bersih yang satu ini memanfaatkan prinsip yang cukup mendasar. Untuk melakukan metode lumpur cair, Anda akan membutuhkan dua unit proses utama, yakni terdiri dari bioreaktor dan juga tangki sedimentasi.

Biomassa yang terdapat pada bioreaktor akan bercampur secara sempurna dengan air limbah dalam sebuah reaktor. Kedua unsur yang ada di bioreaktor ini terdapat sistem aerasi yang memiliki tujuan agar unsur-unsur di dalamnya dapat mengalami pencampuran.

Dengan kata lain, aerasi tersebut berfungsi sebagai sebagai sarana pengadukan dalam suspensi.
Selanjutnya, air limbah yang telah mengalami proses aerasi di sebuah bioreaktor pada cara atau metode lumpur cair ini akan berpindah ke tangki sedimentasi. Di tangki ini, biomassa atau limbah akan mengalami proses pemisahan dengan air bersih.

Seperti namanya, tangki sedimentasi akan mengendapkan biomassa, sedangkan air yang sudah bersih atau sudah mengalami pengelolaan air bersih akan dibuang ke lingkungan.

2. Metode Disinfeksi

Metode yang satu ini terkesan sangat higienis atau bersih apalagi untuk banyak limbah yang memiliki bakteri, kuman, maupun kotoran.

Disinfeksi adalah sebuah penghilangan mikroorganisme menggunakan cairan kimia yang sering Anda temukan di pasaran. Metode yang mengelola air limbah tercemar hingga menjadi bersih dan tanpa kontaminan ini terkenal ketika masa pandemi covid-19 lalu.

Meski begitu, metode disinfeksi sebenarnya bukan merupakan metode yang baru. Dengan kata lain, metode ini sudah lama orang-orang awam maupun pelaku usaha gunakan ketika melakukan pengelolaan air limbah menjadi air bersih.

Metodenya pun cukup mudah. Anda hanya perlu mencampurkan cairan pembasmi mikroorganisme atau yang kerap memiliki sebutan cairan disinfektan ke air yang tercemar.

Dalam waktu mulai dari beberapa jam hingga lebih dari satu hari, cairan pembasmi bakteri ini akan membuat air limbah menjadi air bersih.

3. Sedimentasi

Sedimentasi adalah sebuah proses dalam mengolah air bersih menjadi air limbah yang sangat mendasar.

Proses ini menggunakan pengendapan, yaitu sebuah metode pengelolaan air limbah menjadi air bersih yang memang memanfaatkan suatu sifat fisika. Sifat fisika yang dimaksud di sini adalah memisahkan padatan dari cairannya atau nama lainnya adalah sedimentasi.

Metode sedimentasi pada pengolahan air bersih yang awalnya merupakan air limbah dapat menggunakan sebuah katalis yang memang sangat mudah Anda temukan di pasaran.

Maka tidak heran jika metode ini seringkali menjadi pilihan untuk mengubah limbah cair menjadi air bersih yang terbebas kontaminan atau limbah sama sekali.

4. Metode Kolam

Dari metode-metode yang sudah ada untuk mengelola air limbah menjadi air bersih, mungkin metode kolam adalah salah satu yang paling sederhana untuk bisa Anda terapkan. Meski begitu, keefektifan metode ini tidak kalah baiknya dengan metode-metode sebelumnya.

Metode kolam adalah cara pembersihan limbah yang menggunakan prinsip wadah besar berbentuk kolam. Limbah yang sudah masuk ke dalam kolam nantinya akan tersuplai oksigen. Setelah itu, mikroorganisme beserta yang terdapat pada kolam ini akan mengalami pengadukan secara alami.

Akibatnya, metode kolam ini membuat limbah mengalami proses perombakan bahan organik yang terjadi dalam kurun waktu lama dan di area yang luas. Pada sistem ini, berbagai mikroorganisme juga punya peran tersendiri dalam proses perombakan limbah organik.

Mikroorganisme yang memiliki peran dalam proses metode kolam ini adalah organisme autotrof. Peran dari organisme autotrof ini adalah mengurai bahan anorganik melalui proses fotosintesis sebagai bahan utama untuk makanan mereka.

Kolam yang semakin lama dibiarkan akan mengurai lebih banyak biomassa dan harapannya akan membuat air limbah menjadi air bersih pada akhirnya.

5. Sistem RBC

RBC merupakan sebuah metode pengelolaan air bersih yang memiliki kepanjangan Rotating Biological Contactor. Metode ini menggunakan deretan cakram yang terpasang secara horizontal pada sebuah as dengan jarak masing-masing kurang lebih sekitar 4 cm.

Beberapa cakram akan terisi limbah, sedangkan sebagian yang lainnya digunakan sebagai kontak dengan udara.

Air limbah yang berputar di dalam cakram akan mengakibatkan tumbuhnya mikroorganisme pada permukaan cakram. Nantinya, lapisan biologis (biomassa) yang terbentuk akan mengabsorbsi bahan organik yang ada dalam limbah cair. (sumber: ilmugeografi.com)

6. Metode UASB (Up-flow Anaerobic Sludge Blanket)

UASB (Up-flow Anaerobic Sludge Blanket) merupakan sebuah metode pengelolaan air bersih yang menggunakan reaktor anaerobik. Metode ini penerapannya paling banyak bisa Anda jumpai dalam pengolahan berbagai jenis limbah cair.

Di metode UASB, bahan organik akan mengalami sebuah proses anaerobik yang pada akhirnya berubah menjadi produk akhir berupa gas metana maupun karbondioksida. Perbedaan mendasar antara proses ini dengan anaerobik terletak pada karakteristik biomassanya.

Inovasi dari metode UASB menghasilkan reaktor yang berbentuk fixed bed reactor dan fluidized bed reactor. Sedangkan untuk proses yang ada di reaktor UASB ini sendiri adalah dengan mengalirkan biomassa atau limbah dari bawah menuju bagian atas reaktor.

Fenomena cairan yang dari bawah ke atas ini ternyata disebabkan oleh adanya perkembangan dari mikroorganisme yang ada di bawah reaktor.

7. Septic Tank

Metode septic tank adalah pengolahan limbah cair yang sangat sederhana dan hampir serupa dengan metode kolam. Di metode pengelolaan air bersih ini, Anda hanya perlu memasukkan limbah ke dalam sebuah tangki yang kedap udara.

Sama layaknya metode UASB, proses perombakan limbah cair yang ada di metode septic tank ini berlangsung dalam kondisi anaerobik. Meski begitu, sebuah septic tank harus lengkap dengan sistem penyerapan efluen.

Sudah Lebih Paham dengan Metode Pengelolaan Air Bersih?

Ketujuh metode di atas mungkin sangat baik sebagai sistem pengolahan air bersih di rumah ataupun industri Anda. Namun, tetap konsultasikan mengenai instalasi pengolahan air limbah kepada orang yang sudah ahli.